Kulon Progo — Pemerintah Kabupaten Kulon Progo bersama SIGAB Indonesia melalui Program SOLIDER dan dukungan Program INKLUSI menggelar Bursa Kerja Inklusif Kulon Progo 2026 dan Gelar Karya Pelatihan BLK pada 27–28 Agustus 2026 di UPTD Balai Latihan Kerja (BLK) Kulon Progo.
Kegiatan mengusung tema “Kulon Progo Nyawiji: Merajut Karya, Mewujudkan Kerja Inklusif” dengan pesan “Kesempatan Setara untuk Semua.” Bursa kerja ini mempertemukan difabel pencari kerja dengan perusahaan sekaligus menyediakan fasilitas pendukung, seperti Juru Bahasa Isyarat (JBI), pendamping, kursi roda, walk-in interview, dan konsultasi karier.
Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, yang membuka kegiatan tersebut, mengapresiasi pelaksanaan bursa kerja inklusif. Ia bahkan meminta agar kegiatan diperpanjang karena dinilai penting untuk membuka akses kerja bagi difabel.
“Tolong jangan satu hari lah, ini baru di Kulon Progo lho yang melakukan kegiatan ini, baru pertama kali ide bursa tenaga kerja inklusif,” ujarnya.
Atas permintaan tersebut, kegiatan yang semula direncanakan berlangsung satu hari kemudian diperpanjang menjadi dua hari, 27–28 Agustus 2026.
Perpanjangan waktu tersebut memberikan kesempatan lebih luas bagi pencari kerja untuk bertemu dengan perusahaan, mencari informasi pekerjaan, mengikuti wawancara, dan berkonsultasi mengenai pilihan karier
Sebanyak 10 perusahaan dari berbagai bidang membuka stan rekrutmen. Perusahaan yang hadir antara lain PT Sumber Alfaria Trijaya (Alfamart), PT Kusuma Sandang Mekarjaya, PT Busana Remaja Agracipta, CV Sandang Abadi Indonesia, PT PNM, Purnama Jaya Service, Albana Digital Sulaim Yogyakarta, PT Sung Chang Indonesia, PT Mega Inovasi Organik, dan PT Toto Jogko Abadi Jaya.
Sejumlah perusahaan telah memiliki pengalaman mempekerjakan difabel. Alfamart melalui program Alfability sejak 2016 membuka kesempatan bagi teman Tuli, difabel low vision, dan difabel fisik. Sementara Purnama Jaya Service telah menerima pekerja difabel fisik sejak 2010.
“Kami melihat kemampuan dan potensi yang dimiliki, bukan keterbatasannya,” ujar Maryati dari Purnama Jaya Service.
Fasilitas yang aksesibel juga dirasakan Tifat Soleh, pencari kerja Tuli asal Kulon Progo. Menurutnya, keberadaan JBI dan pendamping membuatnya lebih mudah mengikuti kegiatan dan mendapatkan informasi.
“Di acara ini aksesnya ternyata sangat baik karena sudah disediakan fasilitas aksesibilitas pendukung, seperti Juru Bahasa Isyarat (JBI) dan pendamping bagi difabel,” ungkap Tifat.
Sementara itu, Ardian, lulusan SLB Panjatan asal Wates, datang setelah mendapat informasi dari sekolah. Ia berharap dapat menemukan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya.
“Saya diberi tahu dari sekolah tentang acara ini. Saya ingin mencari lowongan pekerjaan yang sesuai dengan diri saya dan kemampuan saya,” ujar Ardian.
Selain bursa kerja, kegiatan juga diisi Gelar Karya Pelatihan BLK dari peserta pelatihan selama tiga bulan di bidang menjahit, tata rias, dan pembuatan suvenir. Hasil karya ditampilkan melalui peragaan busana yang juga melibatkan seorang peragawati difabel Tuli.

Kesiapan kerja juga tidak berhenti pada keterampilan teknis. Karena itu, kegiatan dilengkapi dengan talkshow inklusif yang menghadirkan Lidwina Wurie Akhdiyanti dari Difabel Zone Indonesia dan Rommy Heriyanto dari KoHi Indonesia.
Sesi tersebut membahas kesiapan menghadapi dunia kerja, termasuk bagaimana membangun keberanian, membuat rencana, menjaga kesehatan mental, dan menghadapi penolakan.
Rommy mengingatkan bahwa penolakan merupakan bagian yang mungkin ditemui seseorang ketika mencari pekerjaan. Karena itu, pencari kerja perlu memiliki cara untuk mengelola kecemasan dan melakukan evaluasi diri.
Salah satu cara sederhana yang dibagikan adalah mengatur napas ketika menghadapi tekanan, kemudian melakukan refleksi untuk melihat hal-hal yang masih perlu diperbaiki.
Menurut Rommy, terdapat tiga modal penting untuk memasuki dunia kerja, yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap mental yang kuat.
Pesan tersebut penting bagi pencari kerja difabel yang mungkin harus menghadapi tantangan lebih panjang dalam memperoleh pekerjaan. Keterampilan memang penting, tetapi keberanian untuk mencoba, kemampuan menghadapi penolakan, dan kemauan untuk terus belajar juga menjadi bagian dari kesiapan kerja.

Bursa Kerja Inklusif Kulon Progo 2026 memperlihatkan bahwa menciptakan dunia kerja yang inklusif membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Pemerintah berperan membuka akses dan mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan. Perusahaan memberikan kesempatan melalui proses rekrutmen yang lebih terbuka. Sementara itu, difabel hadir dengan kemampuan, keterampilan, dan keinginan untuk bekerja.
Di sisi lain, aksesibilitas menjadi jembatan agar kesempatan tersebut benar-benar dapat digunakan. Juru Bahasa Isyarat, pendamping, informasi yang mudah diakses, dan proses rekrutmen yang ramah bukan hanya pelengkap, tetapi bagian dari upaya menciptakan kesempatan yang setara.[]
Redaksi