Selasa, 30 Juni 2026 Program GOOD fase 2 telah memulai Langkah pertamanya pada kegiatan Webinar Perdana dengan tema “Organisasi Inklusif yang Tangguh masa kini: Tata Kelola Efektif dan Kepemimpinan Difabel” dilaksanakan secara online melalui zoom meeting dengan menghadirkan 2 narasumber berpengalaman di bidangnya yaitu Joni Yulianto dari Pegiat Isu Difabel sekaligus pendiri SIGAB Indonesia yang membawakan tema “Kepemimpinan Difabel”, dan Sarwitri dari Koordinator Civic Engagement Alliance (CEA) dengan tema “Tata Kelola Organisasi”.
Webinar dibuka oleh salah satu tim Program GOOD Sri Muliyati atau dengan nama beken nya Nci, dengan pembacaan safeguarding sebagai salah satu komitmen tim GOOD dan juga SIGAB Indonesia dalam memastikan kebebeasan berpendapat dan bersuara serta keamanan peserta dalam mengikuti kegiatan, momentum webinar perdana ini tentu menjadi ajang bagi Tim GOOD untuk memperkenalkan diri sekaligus menjelaskan tujuan visi misinya yang dibawakan oleh Program Manager GOOD Kuni Fatonah, dalam sesi ini Kuni menjelaskan bahwa Program GOOD masih berlandaskan pada tujuan awal mengenai pengembangan organisasi difabel agar bisa berdaya dan menjadi mandiri, namun tidak hanya tentang organisasinya saja ada hal baru yang dibawakan yaitu terciptanya regenerasi anak muda pada setiap organisasi difabel untuk menjamin bahwa perjuangan dan advokasi yang dilaksanakan dapat terus diteruskan pada generasi berikutnya dan tidak hanya bergerak dalam jangka waktu tertentu saja dengan begitu organisasi difabel bisa mendapatkan kepercayaan ataupun legitimasi mengelola sumber pendanaan ataupun ajakan Kerjasama dengan OMS ataupun Pemerintah daerah.
Setelah sesi Kuni selesai menjelaskan tujuan Program GOOD, kegiatan di bawakan oleh Moderator Irna Riza Yuliastuty yang saat ini menjabat sebagai Ketua PMMI Bengkulu salah satu organisasi mitra dampingan Program GOOD fase 1 yang sampai saat ini masih terus bergerak mengadvokasi di daerahnya, Irna selaku moderator memberikan sesi pertama materi kepada Sarwitri mengenai tata kelola organisasi yang dibawakan dengan metode penjelasan sederhan dengan presentasi power point, dalam penjelasanya sarwitri menjelaskan hal dasar dahulu mengenai tata kelola organisasi yaitu perbedaan antara organisasi non profit (NGO) dan Corporate di beberapa aspek seperti tujuan utama, struktur kepemilikan, pengukur kinerja, akuntabilitas dan sumber pendanaan, Perusahaan berfokus pada penciptaan keuntungan serta peningkatan nilai bagi pemegang saham, sehingga keberhasilannya diukur melalui kinerja keuangan. Sementara itu, organisasi non-profit berorientasi pada pencapaian misi sosial, tidak memiliki pemilik, dan bertanggung jawab kepada berbagai pemangku kepentingan, seperti masyarakat, donor, serta penerima manfaat. Oleh karena itu, keberhasilannya lebih diukur dari dampak sosial yang dihasilkan daripada keuntungan finansial. Dari penjelasan Sarwitri tata kelola organisasi juga harus memiliki beberapa prinsip yaitu transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, dan independensi yang nantinya akan menjadi manfaat baik bagi NGO, terakhir dalam paparanya Sarwitri menyampaikan bahwa Organisasi difabel yang memahami prinsip-prinsip tata kelola cenderung lebih resilien terhadap krisis dan mampu bertahan dengan perubahan sehingga tercapai keberlanjutan jangka panjang, tata kelola efektif bukan hanya tentang mengikuti aturan tetapi juga menanamkan nilai tata kelola dalam pengambilan Keputusan dan Tindakan organisasi.
Setelah Sarwitri materi dilanjutkan oleh Joni Yulianto mengenai kepemimpinan difabel dimana dalam paparanya Joni menyampaikan bahwa ia ingin para audience belajar mengenai kepemimpinan difabel dari salah satu buku hasil riset kepemimpinan di Indonesia dimana ia juga terlibat dalam proses riset dan penyusunanya, buku berjudul “MENEMUKAN DIRI, MEMIMPIN SESAMA: PERJALANAN KEPEMIMPINAN ORANG DISABILITAS DI INDONESIA” berfokus pada pembahasan perjalanan kepemimpinan difabel di Indonesia, dimulai dari bagaimana proses terbentuknya identitas diri, pengalaman hidup yang membentuk kepemimpinan hingga bagaimana pola kepemimpinan ini saat dipraktekan menjadi pendorong perubahan sosial, dalam buku ini dan pembahasan Joni kepemimpinan tidak lahir secara instan, melainkan dibangun melalui dukungan keluarga, pengalaman Pendidikan, keterlibatan difabel dalam organisasi ataupun komunitas sosial serta kesempatan belajar berjejaring dan memimpin, pada intinya kepemimpinan difabel tumbuh Ketika mereka sudah menerima identitas dirinya, didukung lingkungan yang inklusif dan diberikan kesempatan untuk belajar, berjejaring, dan memimpin.
2 sesi materi yang telah disampaikan oleh para narasumber diakhiri dengan sesi tanya jawab dari peserta kepada narasumber, salah satu pertanyaan disampaikan peserta bernama Fithri Setya dari KPSI Solo Ray ada 2 hal yang pertama bagaimana mengatasi permasalahan organisasi tentang overload beban pekerjaan Ketika organisasi tersebut hanya ada beberapa anggota yang aktif saja dan yang kedua mengenai SOP yang wajib diutamakan oleh organisasi difabel agar tercapai tata kelola organisasi yang baik, dari pertanyaan tersebut Joni memberikan jawaban terlebih dahulu tentang bagaimana mengatasi permasalah organisasi yang anggotanya beberapa masih kurang aktif, berdasarkan pengalaman Joni dalam mendirikan SIGAB Indonesia ia mengawali dengan hal hal yang menyenangkan dan sederhana dahulu seperti jalan-jalan dilokasi yang ramai pengunjung seperti Malioboro lalu mengadakan diskusi atau dialog dengan Masyarakat di Lokasi ataupun pemerintah daerah seperti DPRD yang bisa dijaak berdialog, baru setelah itu muncul kegiatan strategis lainya yang berfokus pada pengembangan organisasi lebih lanjut. Pertanyaan ke 2 dijawab oleh Sarwitri bahwa dalam menentukan SOP apa yang harus didahulukan untuk mencapai tata kelola yang transparan dan baik Adalah memahami dulu bentuk organisasinya, apakah sudah berbadan hukum, apakah Yayasan atau hanya perkumpulan, lalu berikutnya perlu dibangun lebih dahulu kesadaran pada setiap anggotanya bahwa Lembaga/organisasi ini penting jangan sampai hanya beberapa orang saja yang peduli terkait hal tersebut, setelah secara internal diperkuat maka organisasi bisa mencari assessment atau pengukuran agar kemudian organisasi tidak menghasilkan sesuatu yang jauh dari tujuan organisasinya, dari sinilah panduan muncul terkait apa SOP yang dibutuhkan terlebih dahulu bagi organisasi yang kedepan akan berimpact pada keberlanjutan organisasi.
Setelah sesi tanya jawab yang berlangsung sekitar 50 menit, kegiatan webinar diakhiri oleh moderator Irna dengan Kesimpulan keberlanjutan organisasi difabel ini sangat bertumpu pada pondasi tata kelola organisasi yang akuntabel dan kepemimpinan difabel yang adaptif serta partisipatif, pengalaman hidup rekan rekan difabel menjadi kunci utama agar setiap kebijakan dan Keputusan yang diambil benar-benar responsive terhadap kebutuhan difabel. Sesi webinar telah usai waktu dikembalikan kepada Nci sebagai MC dan karena kegiatan webinar ini bertepatan dengan jadwal pembukaan calon mitra Program GOOD fase 2 maka sesi akhir ditutup dengan paparan dan informasi tanya jawab secara eksklusif dengan peserta webinar seperti timeline,syarat, dan juga manfaat yang didapatkan oleh organisasi difabel jika diterima menjadi mitra Program GOOD fase 2, proses pendaftaran disampaikan akan dibuka dari tanggal 30 Juni 2026 sampai dengan 11 Juli 2026.
Penulis : Lio Panji Phasha (Media Komunikasi Program GOOD)